Minggu, 05 September 2010

Timnas Jajal Pantai Gading & Uruguay
Mohammad Resha Pratama - detiksport


Getty Images/Streeter Lecka
Jakarta - Sempat dikabarkan ingin menjajal Brasil dan Argentina dalam partai ujicoba jelang Piala AFF, timnas akhirnya batal mengundang dua raksasa Amerika Latin itu. Sebagai gantinya 'Merah Putih' akan berujicoba dengan Pantai Gading dan Uruguay.

Dalam dua bulan terakhir kencang beredar isu Brasil dan Argentina akan jadi lawan tanding timnas asuhan Alfred Riedl yang akan mempersiapkan diri guna bermain di ajang AFF akhir tahun ini. Namun akibat tak kunjung mendapat surat balasan dari kedua federasi, maka Badan Tim Nasional (BTN) pun mencari alternatif lain.

Awal pekan ini BTN telah mengirim undangan ke Federasi Sepakbola Pantai Gading dan kabarnya mendapat respon positif. The Elephants pun berencana akan datang ke Jakarta pada tanggal 12 ataui 13 Oktober dengan membawa serta beberapa pemain intinya seperti Didier Drogba, Salomon Kalou, Yaya dan Kolo Toure.

"Saya sudah mendapat konfirmasi dari Federasi Sepakbola Pantai Gading. Pertandingan mungkin akan digelar antara 12 atau 13 Oktober mendatang. Dalam kontrak yang kami ajukan, kami meminta tim utamanya. Saya minta empat pemain itu harus ikut," tutur ketua BTN Iman Arif.

Untuk laga melawan wakil Afrika itu kabarnya Indonesia harus menyiapkan match fee sebesar Rp 3-4 miliar. Dampaknya adalah para penonton di Stadion Gelora Bung Karno nanti harus merogoh kocek untuk menyaksikan penampilan Bambang Pamungkas cs melawan Drogba dkk.

Jika Pantai Gading disiapakn untuk menggantikan Argentina, maka untuk Brasil BTN pun akan mendatangkan Uruguay. Kepastian ini didapat setelah Iman mengirimkan surat ke federasi setempat dan direncanakan akan tampil pada 9 Oktober mendatang.

Tim asuhan Oscar Washington Tabarez yang finis di posisi keempat pada Piala Dunia lalu berencana akan membawa serta peraih bola emas Diego Forlan.

"Brasil masih menunggu CBF dan belum ada kabar. Saya ganti sama Uruguay dengan Diego Forlan, 9 Oktober 2010. Uruguay sudah menjawab positif, sedangkan Brasil masih banyak pertimbangan," tutur Iman, Jumat (3/9).

Setelah berkali-kali gagal mengundang tim kuat ke Tanah Air untuk berujicoba, akhirnya timnas pun bisa mendapat lawan tanding kuat demi menambah jam terbang serta performa para pemainnya. Sebab selama ini timnas lebih banyak melawan tim-tim yang kelasnya jauh di bawah mereka. ( mrp / arp )

Robinho ke Milan Mencari Kebahagiaan yang Hilang Doni Wahyudi - detiksport




Reuters
Milan - Robinho menyisakan penyesalan saat memutuskan meninggalkan Real Madrid ke Manchester City. Tak merasakan kebahagiaan di City of Manchester Stadium, dia kini mencarinya bersama AC Milan.

City harus memecahkan rekor transfer Liga Inggris saat memboyong Robinho dari Madrid pada musim panas 2008 lalu. Meski awalnya terlihat sangat menjanjikan, dana 32,5 juta poundsterling yang dikeluarkan The Citizens kemudian terasa sia-sia karena sang pesepakbola tak pernah benar-benar tampil maksimal di sana.

Setelah sempat 'dibuang' dengan dipulangkan ke Santos dengan status pinjaman, City akhirnya melego striker 26 tahun itu ke AC Milan dengan biaya 'cuma' 18 juta poundsterling.

Dalam periode yang singkat bersama City, Robinho sama sekali tak menemukan kebahagiaan yang dia cari. Kehidupan di klub kota Manchester itu disebutnya terlalu kaku dan tak sesuai dengan apa yang dia harapkan.

“Baik Mark Hughes atau Roberto Mancini, keduanya tak ada yang memahami saya. Mungkin mereka cuma tahu soal sisi olahraga dan itu tak cukup buat saya. Kontak antara pemain dan klub terlalu sedikit," sahut Robinho seperti dikutip dari Soccernet.

"Itu seperti sebuah kantor - datang berlatih dan kemudian mengucap sampai jumpa. Saya orang Brasil dan saya tak bisa memberikan yang terbaik jika aspek kehidupan saya merasa tidak bahagia," lanjut Robinho.

Makin membuat Robinho tak betah di City adalah saat klub tersebut menjual Elano, salah satu rekan terdekatnya selain Jo. Apalagi pihak klub disebutnya tak memberikan alasan pasti saat melepas Elano.

"Itu masalah saya. Saya pesepakbola yang spesial dan saya butuh merasa bahagia saat saya bermain. Itu ada di Real Madrid tapi tidak di City. Ada Elano dan Jo di skuad adalah sebuah bonus. Mereka membantu saya beradaptasi tapi kemudian Elano pergi dan saya tak tahu motif di balik kepergiannya," sambung pria kelahiran Sao Vincente, Brasil itu.

Di Milan, Robinho memang berpeluang menemukan kembali kebahagiaan yang dia cari-cari. Selain ada beberapa pemain Brasil di sana, skuad Rossoneri selama ini juga dikenal punya ikatan kekeluargaan yang sangat kuat.

Kamis, 26 Agustus 2010

KHASIAT SURAT YASIIN


Yasin ini dikhususkan untuk mengobati dan meringankan suatu penyakit baik zhohir maupun bathin, caranya:

1. Surat Yasin dibacakan pada air yang akan diminumkan juga dimandikan dibagi 1/2 -1/2 bagian.
2. Makanan yang bisa di makan pada saat sakit, biasanya bubur.
3. Sebelum anda membacanya, anda sholat hajat 2 raka’at.
4. Kalau keadaan mendesak atau harus anda lantari penyembuhan saat itu juga, (misalnya; sakit gigi, perut, pusing, kena kejang, shok, dll) anda cukup mengambil air wudhu.
5. Bila untuk pengobatan rutin, anda harus membaca surat Al Fatihah sesudah sholat hajat. Namun, bila bersifat pengobatan pada saat itu juga anda cukup membaca ayat Yasin di bawah ini:

* Yasin ayat 1 : 7 kali
* Yasin ayat 2 : 3 kali
* Yasin ayat 3 : 3 kali
* Yasin ayat 4 : 3 kali
* Yasin ayat 5 : 3 kali
* Yasin ayat 58 : 10 kali
* Yasin ayat 82 : 1 kali pada kun berdo’a kesembuhan fayakun.
* Yasin ayat 83 : di ayat (fasubhanalladzii 11 kali baca) dilangsungkan sampai selesai.

Jadi, Yasin pengobatan ini anda hanya membaca ayat-ayat yang di atas saja (1, 2, 3, 4, 5, 58, 82, 83), atau tidak dibaca secara keseluruhan.


Yasin Mubin

Ada 2 cara melakukan untuk tata cara Sholat hajat, Surat AL Fatihah sama seperti tata cara di Yasin Hajat I.

Mubbin Pertama

* Anda membaca setiap do’a atau hajat pada ayat Yasin, ada dua kata akhir mubin yaitu pada ayat: 12, 17, 24, 47, 60, 69, 77)
* Ayat 58 di ba dibaca 3 kali dan berdo’a sesuai hajatnya.
* Ayat 82 pada kun…..niat/do’a hajatnya……kemudian dilanjutkan fayakun.
* Ayat 83 dan ditutup dengan do’a.

Mubin kedua

Semuanya sama seperti mubin pertama, namun di sini anda membacanya selalu mengulang-ulang ke tengah:

* Ada sampai pada mubin ayat 12 berhenti dan berdo’a, selesai do’a anda kembali membaca dari awal atau surat Yasin 1.
* Ketika anda membaca dari awal sampai pada ayat 12, anda tidak usah lagi berdo’a, terus saja dilewatkan hingga sampai pada mubin ayat 17 anda berhenti berdo’a/hajat dan anda kembali lagi ke ayat Yasin 1 (pertama), begitu juga dengan ayat 24, 47, 60, 69, 77, setiap ada kata mubin anda berdo’a dan kembali lagi ke ayat 1. 1-7-do’a, 1-24-do’a, 1-47-do’a.
* Untuk ayat 58 anda membaca do’a / hajat namun tidak harus kembali lagi ke ayat 1 seperti ayat mubin-mubin lainnya.
* Ayat 82 dan 83 sama seperti mubin pertama.
Kelebihan Surat Yasin


Kebanyakan dari kita mengetahui Yasin merupakan ayat untuk hajatan, dibaca pada acara persedekahan, syukuran, selamatan, orang meninggal, dll, yang sudah rutin dibaca pada acara tersebut. Di sini saya menuliskan manfaat surat Yasin lebih luas lagi. Karena sangat sayang sekali apabila surat Yasin yang biasa kita baca hanya sebatas di situ saja. Surat Yasin banyak sekali manfaatnya, dan banyak juga cara pengamalannya.

1. Yasin Hajat I

Di sini kami menuliskan pengamalan surat Yasin dengan beberapa cara:

1. Surat Yasin yang dibaca bersama-sama untuk acara tertentu (persedekahan, syukuran, dll)
2. Surat Yasin yang dibaca sendiri untuk memohon hajat yang khusus, dengan membacanya setelah sholat hajat, membaca keseluruhan Surat Yasin bisa satu kali, 3 kali, 7 kali, bahkan ada yang sampai membaca 40 kali agar terpenuhi hajatnya.
3. Surat Yasin dibaca pada waktu/hari yang paling bagus, misalnya; untuk malam hari sesudah isya’ (lebih bagus malam jum’at), sebelum sholat jum’at (dimasjid, sesudah sholat tahiyatul masjid), dan hari-hari besar Islam (khusus malamnya).

Ini tata caranya:

* Raka’at ke-1 sesudah membaca Surat AL Fatihah membaca Surat AL Kafirun 10 kali.
* Raka’at ke-2 sesudah membaca Surat AL Fatihah membaca Surat Al Ikhlas 10 kali.

Nah, setelah sholat tersebut kita membaca amalan sebagai berikut:

* Istighfar 101 kali
* Sholawat Nabi 33 kali

Setelah selesai membaca amalan di atas, maka dilanjutkan membaca Surat Al Fatihah kepada:

1. Nabi Muhammad SAW
2. 4 Sahabat Nabi
3. 4 Malaikat (Jibril, Mika’il, Izrofil, Izro’il)
4. Nabi Allah Phidir AS
5. Penjaga Yasin Walqur’anul hakim
6. Kedua orang tua (yang masih hidup illa ruhi)
7. Kaum muslimin muslimat, dll
8. Untuk diriku dan hajatku

Selesai membaca surat Al Fatihah, membaca surat Yasin secara keseluruhan, namun pada ayat di bawah ini dibaca:

* Surat Yasin 1 dibaca 7 kali
* ……….ayat 38 dengan bacaan Wassyamsu Tajri Limustaqarrillaha (dzalika taqdirul aziizil ‘alaiim) (14 kali)
* Surat Yasin ayat 58 dibaca 16 kali
* Surat Yasin ayat 81 dengan bacaan Awalaisalladzii halaqassamaawaati wal ardla biqaadirin ‘alaa ayyakhuqa mitslahum bala) (4 kali)
* Surat Yasin ayat 82 dibaca sampai habis dan berdo’a sesuai hajat yang dimaksud.
* Dilanjutkan dengan Yasin ayat 83 menutup Do’a hajat tersebut (Do’a antara ayat 82 dan 83) ditutup dengan Do’a.

Wassalam,

Bya Geger



Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Dengan rahmat Allah SWT, saya Bya Geger menuliskan artikel ini pada Blog saya. Demi Allah saya tidak bermaksud menyombongkan diri karena saya hamba Allah yang penuh dengan kekurangan namun ini ditulis mudah-mudahan amalan ini berguna bagi orang banyak dan saya mengikhlaskan sepenuh hati untuk dipelajari dan diamalkan oleh siapa saja yang mungkin bermanfaat bagi sesama hamba Allah.

Nah, bila sedulur, sesepuh, kyai mempunyai amalan yang bisa kami muat untuk berbagi amalan yang bisa digunakan dan berguna bagi orang banyak, sudilah kiranya mengirimkan kepada kami untuk dimuat di Blog ini, yang kita harapkan adalah pahala dan ridho Allah SWT karena ilmu dan amalan yang bermanfaat.

Amin ya rabbal alamin.

Selasa, 18 Mei 2010

Peradilan Rakyat

Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.

"Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."

Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung.

"Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?"
Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya kepadaku?"
"Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung
tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini."
Pengacara muda itu tersenyum.
"Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku."

"Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu."

Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa.

"Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri."

Pengacara tua itu meringis.
"Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan."
"Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!"
Pengacara tua itu tertawa.
"Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua.
Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf.

"Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan," sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, "jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini."

Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.

"Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog."
"Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya."

"Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani.

Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang.

Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini."

Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan.

"Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya."

"Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba.
Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran.
"Bagaimana Anda tahu?"

Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu."

Pengacara muda sekarang menarik napas panjang.
"Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya."

Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
"Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?"
"Antara lain."
"Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku."
Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu.
"Jadi langkahku sudah benar?"
Orang tua itu kembali mengelus janggutnya.

"Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?"
"Tidak! Sama sekali tidak!"
"Bukan juga karena uang?!"
"Bukan!"
"Lalu karena apa?"
Pengacara muda itu tersenyum.
"Karena aku akan membelanya."
"Supaya dia menang?"

"Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku."
Pengacara tua termenung.
"Apa jawabanku salah?"
Orang tua itu menggeleng.

"Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang."

"Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan."

"Tapi kamu akan menang."
"Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang."

"Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini."

Pengacara muda itu tertawa kecil.
"Itu pujian atau peringatan?"
"Pujian."
"Asal Anda jujur saja."
"Aku jujur."
"Betul?"
"Betul!"

Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi.
"Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?"

"Bukan! Kenapa mesti takut?!"
"Mereka tidak mengancam kamu?"
"Mengacam bagaimana?"
"Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?"

"Tidak."
Pengacara tua itu terkejut.
"Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?"
"Tidak."
"Wah! Itu tidak profesional!"
Pengacara muda itu tertawa.
"Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!"
"Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?"
Pengacara muda itu terdiam.
"Bagaimana kalau dia sampai menang?"
"Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!"
"Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?"
Pengacara muda itu tak menjawab.
"Berarti ya!"
"Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!"

Orang tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya.

"Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok."
"Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut."

"Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?"

"Betul."
"Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang.

Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional."

Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan.
"Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia."

Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.

"Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional."
"Tapi..."

Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.
"Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam."

Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik.

"Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang lalai."

Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.

Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.

"Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku," rintihnya dengan amat sedih, "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?" ***